Pentingnya Niat dalam Ibadah

pentingnya niat dalam ibadah

Sobat, seberapa pentingkah niat dalam ibadah?

Niat itu sangat penting dalam ibadah dan beramal. Oleh karena itu, hendaklah sobat selalu memperbaiki dan menuluskan niatmu sebelum beramal. Sebab ia merupakan sendi segala amal atau ibadah. Baik buruknya amal, selalu tergantung pada niatnya. Rasulullah saw. bersabda :

“Segala perbuatan tergantung pada niat dan setiap orang akan memperoleh pahala menurut niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, janganlah sobat berbicara, bekerja dan berkehndak tanpa didasari dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah serta senantiasa mengharap pahala-Nya. Dengan demikian Allah swt. pasti memberikan anugran dan kemulian padamu.

Pengertian niat

Niat mempunyai dua pengertian. Pertama, niat adalah ungkapan tentang suatu keinginan yang mendorongmu untuk berkehendak, beramal, dan berbicara. Dengan pengertian ini, niat kebanyakan lebih baik dari pada amal, jika amal yang diniatkan itu baik. Dan sebaliknya lebih buruk dari amal, jika amal yang diniatkan itu buruk. Sesuai dengan sabda Nabi saw. :

“Niat orang yang beriman lebih baik dari pada amalnya.” (HR. Baihaqi)

Coba pikirkan sobat, mengapa hal ini dikhususkan pada orang mukmin. Kedua, niat merupakan ungkapan tentang suatu maksud dan kebulatan tekad untuk melaksanakan sesuatu. Pada pengertian ini, niat lebih baik dari amal perbuatan. Tetapi niat ini tidak mungkin lepas dari hal-hal berikut:

  1. Berniat dan langsung melaksanakannya.
  2. Berniat tapi tidak langsung melaksanakannya padahal sudah mampu untuk melakukannya. Niat inilah yang disebut azam (cita-cita).
  3. Berniat tapi tak mampu melaksanakannya kemudian ia hanya berharap kalau saya bisa, akan saya laksanakan. Maka, meskipun ia tidak melaksanakannya, ia akan memperoleh pahala seperti yang melaksanakannya.

Keduanya (kesatu & kedua) dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. dari Baginda Nabi saw. :

“Barangsiapa bermaksud mengerjakan suatu kebaikan lalu tidak melaksanakannya, Allah akan mencatat baginya satu kebaikan. Apabila ia melaksanakannya Allah akan mencatat sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat, bahkan tak terhingga kelipatannya. Dan barangsiapa bermaksud mengerjakan satu kejahatan, lalu ia tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya satu kebajikan. Apabila ia mengerjakannya, Allah hanya mencatat saju kejahatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang ketiga sesuai dengan sabda Rasulallah saw. :

“Manusia terbagi atas empat golongan. Pertama, orang yang dikaruniai ilmu dan kekayaan oleh Allah. Dan ia mampu memanfaatkan kekayaannya dengan ilmunya. Kedua, orang yang hanya berniat, jika Allah mengaruniaiku seperti dia, saya juga akan beramal spertinya. Maka kedua orang tersebut mendapat pahala yang sama. Ketiga, orang yang dikaruniai oleh Allah kekayaan, tanpa ilmu, kemudian ia menggunakan hartanya dengan kebodohannya. Orang keempat, ialah orang yang hanya berniat untuk mengikuti jejak orang ketiga, bila ia diberi karunia itu. Maka mereka berdua menanggung dosa yang sama.” (al-Hadis)

Hubungan niat dan pendekatan diri kepada Allah

Ketahuilah, bahwa tak akan sempurna pendekatan dirimu kepada Allah, bila tidak sesuai dengan yang digariskan oleh Allah swt. melalui lisan Rasul-Nya, baik yang fardu maupun sunnah.

Adakalanya niat yang benar itu memberi pengaruh pada perkara-perkara mubah (yang diperbolehkan), sehingga ia menjadi perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya ketika kita makan, berniat untuk memperoleh kekuatan dan gairah dalam beribadah kepada Allah, dan ketika berhubungan dengan istri, kita berniat agar dikaranuiai anak yang saleh.

Sumber : Kitab Risalah Muawanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *